Header Ads Widget

Kisah Abdul Rozzaq, Bangkit Setelah 1.8 hektare lahan Cabainya Diterjang Banjir Bandang di Aceh Tamiang

fiksumnews.com | ​Aceh Tamiang - Sore itu, di lahan pertanian cabai miliknya di Kampung Tanjung Seumantoh, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang, Abdul Rozzaq Mubaroq (38) bercerita dengan penuh semangat. Ia mengisahkan perjuangannya untuk bangkit setelah diterjang banjir besar melanda Sumatera pada tahun 2025 lalu. Sabtu, (13 Juni 2026).

​Namun, di tengah cerita, pria yang akrab disapa Rozzaq ini tiba-tiba berlinang air mata. Ingatannya kembali meledak pada peristiwa November 2025, saat banjir bandang menyapu bersih 1,8 hektare lahan pertanian yang menjadi tumpuan hidup keluarganya.

​Seperti wilayah lain di Aceh Tamiang, Kampung Tanjung Seumantoh hancur digulung banjir. Seluruh tanaman dan peralatan pertanian hanyut tanpa sisa, meninggalkan tumpukan sampah dan lumpur tebal yang menimbun lahan. Kala itu, Rozzaq mengaku hanya bisa pasrah.

​"Awal melihat lahan ini, saya bingung mau mulai dari mana. Terkadang saya berpikir bagaimana bisa memberi makan anak dan istri. Tiap malam saya pandang wajah keluarga, ada rasa sedih, bingung, dan gelisah yang bercampur aduk," ujarnya sembari menyeka air mata.

​Namun, tatapan anak dan istrinya justru menjadi pemantik semangat. Enggan berlarut dalam kesedihan, Rozzaq bertekad untuk segera pulih. Saban hari ia tetap pergi ke ladang, menerobos genangan lumpur yang belum surut.

​"Sampai di ladang, saya kerjakan apa saja yang bisa dilakukan. Sembari memikirkan rencana menanam kembali, saya mulai belajar lagi. Saya baca jurnal pertanian hingga menonton YouTube untuk mencari tahu cara pengelolaan lahan pascabanjir," tuturnya.

​Memulihkan lahan bekas banjir tentu bukan perkara mudah, apalagi kedalaman lumpur mencapai 30 sentimeter. Rasa lelah, haus, dan lapar kerap mendera di bawah terik matahari. Namun, Rozzaq menolak menyerah. Ia bahkan enggan sekadar duduk bersantai atau minum kopi di gubuknya.

​"Saya tidak mau berleha-leha. Kehidupan harus terus berputar," tegas Rozzaq.

​Setelah lumpur sisa banjir mulai mengering, Rozzaq menyewa traktor untuk meratakan tanah. Lahan tersebut kemudian didiamkan selama dua hingga tiga bulan. Ia optimis material lumpur sisa banjir tersebut justru menyimpan nutrisi yang bisa dikelola kembali untuk tanaman hortikultura.

​Titik terang pun tiba. Rozzaq akhirnya bisa bernapas lega setelah mendapatkan bantuan dari Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) Pertamina EP Rantau Field. Bantuan yang dikucurkan meliputi restorasi lahan, sarana produksi pertanian, serta 6.000 bibit cabai dan 500 bibit tomat. Secara total, Rozzaq bersama rekan-rekannya di Kelompok Tani Tunas Muda menerima 10 ribu bibit tanaman hortikultura.

​"Alhamdulillah, dari 1,8 hektare lahan, saat ini 21 rante (sekitar 0,8 hektare) sudah kembali ditanami cabai dan sayuran. Rinciannya, 13 rante ditanami cabai rawit, 5 rante cabai merah, dan 3 rante sayur sawi. Untuk sawi bahkan sudah panen. Berkat dukungan dari Pertamina EP Rantau Field, saya bisa kembali memenuhi kebutuhan hidup keluarga," sebutnya.

​Sementara itu, Manager Community Involvement Development Regional 1, Iwan Ridwan Faizal, menyampaikan bahwa sektor pertanian merupakan prioritas utama yang harus dipulihkan pascabencana banjir. Sebab, mayoritas masyarakat setempat menggantungkan hidupnya dari sektor ini.

​"Pertamina hadir untuk mendukung pemulihan (recovery) para petani di sekitar wilayah operasi kami. Besar harapan kami agar dukungan ini dapat bermanfaat langsung bagi keberlangsungan hidup para penyintas banjir,” ujar Iwan.

​Ia menambahkan, perusahaan berkomitmen untuk senantiasa berkolaborasi dengan seluruh pemangku kepentingan dalam mengembangkan program PPM yang inovatif dan berkelanjutan.

​Melalui program ini, para petani binaan Pertamina EP Rantau Field diharapkan tidak hanya kembali memperoleh sumber pendapatan, tetapi juga mampu bersinergi dengan program pemerintah dalam meningkatkan ketahanan pangan di wilayah tersebut.​(Pakar)

Posting Komentar

0 Komentar