Header Ads Widget

Tarawih Malam Kedua: Jejak Ruhani di Madrasah Besar Babussalam Besilam

fiksumnews.com / Langkat - Pada malam kedua Ramadhan, Madrasah Besar Tuan Guru Babussalam Besilam, Langkat, tidak hanya menjadi tempat berdirinya jasad-jasad yang bersaf rapi, tetapi juga ladang perjumpaan ruh dengan Tuhannya. Dalam keheningan malam, Sholat Tarawih menjelma menjadi perjalanan batin dari kesibukan dunia menuju hadirat Ilahi yang Maha Lembut.

Di bawah imamah al-Ustadz Muhammad Junaidi, S.Pd., S.H., ayat-ayat suci Al-Qur’an dilantunkan bagai aliran cahaya yang menyusup ke relung hati. Setiap takbir seakan memutus keterikatan pada selain Allah, setiap rukuk menundukkan kesombongan jiwa, dan setiap sujud menjadi puncak fana—lenyapnya diri dalam penghambaan yang hakiki.

Saf-saf yang tersusun rapi menggambarkan kesetaraan di hadapan Allah: tiada perbedaan antara kaya dan miskin, tua dan muda, semua larut dalam satu samudra tauhid. Dalam perspektif tasawuf, inilah majelis penyucian hati (tazkiyatun nafs), tempat manusia belajar melepaskan riya’, ujub, dan segala penyakit batin, lalu menggantinya dengan ikhlas dan mahabbah kepada Sang Pencipta.

Heningnya malam Ramadhan di Babussalam terasa seperti bisikan kasih sayang Ilahi. Setiap hembusan napas para jamaah adalah dzikir, setiap detak jantung adalah pengakuan akan kelemahan hamba di hadapan Yang Maha Kuasa. Tarawih bukan sekadar rakaat yang terhitung, tetapi langkah-langkah menuju ma’rifat—mengenal Allah dengan hati yang bersih dan jiwa yang tunduk.

Semoga Tarawih malam kedua ini menjadi awal perjalanan ruhani yang berkelanjutan, menuntun para salik menuju kedekatan sejati dengan Allah SWT, hingga Ramadhan berakhir dengan hati yang bening, jiwa yang tenang, dan cinta yang semakin mendalam kepada-Nya.(Red)

Posting Komentar

0 Komentar