Header Ads Widget

Kesaksian Ichsan (YC6CX): Komunikasi dengan BNPB Pusat Terjalin di Tengah Padamnya Listrik dan Lumpuhnya Jaringan Seluler

fiksumnews.com | Aceh Tamiang — Terputusnya jaringan komunikasi seluler dan internet saat bencana hidrometeorologi melanda Kabupaten Aceh Tamiang pada akhir November 2025 menjadi tantangan serius dalam penyampaian informasi dan koordinasi penanganan darurat.

Di tengah kondisi tersebut, Organisasi Amatir Radio Indonesia (ORARI) berupaya menjaga aliran informasi dari wilayah terdampak melalui komunikasi radio frekuensi tinggi atau high frequency (HF). 

Salah satu upaya itu dilakukan Ichsan (YC6CX), Koordinator ORARI Wilayah Timur, yang mengoperasikan perangkat radio dengan sumber daya listrik dari baterai mobil pribadi saat aliran listrik padam.

Dalam kesaksiannya pada Rabu (21/10/2026), di sebuah warung kopi di Desa Tanah Terban, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang, Ichsan menceritakan upaya membangun komunikasi dengan pihak di luar wilayah terdampak hingga terjalinnya komunikasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pusat.

Pengalaman tersebut menggambarkan pentingnya komunikasi alternatif ketika infrastruktur komunikasi konvensional tidak dapat berfungsi akibat bencana.

Berupaya Mencari Akses Komunikasi

Menurut Ichsan, pada awal kejadian, terputusnya jaringan telepon seluler dan internet menyulitkan penyampaian informasi mengenai kondisi di lapangan.

Ia menuturkan, sekitar pukul 17.30, sejumlah personel Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mendatangi sebuah warung kopi di Desa Paya Bedi, Kecamatan Rantau. Desa tersebut berbatasan dengan Desa Bukit Rata, Kecamatan Kejuruan Muda, Aceh Tamiang.

Pertemuan itu membahas upaya memperoleh akses komunikasi untuk menyampaikan informasi mengenai situasi bencana.

Karena jaringan komunikasi di lokasi tidak memadai, sejumlah personel BPBD berupaya menuju kawasan Limo Mungkur, Sumatera Utara, yang diperkirakan masih memiliki jangkauan sinyal telepon seluler.

Langkah tersebut menunjukkan sulitnya memperoleh akses komunikasi pada masa awal bencana. 

Informasi mengenai kondisi masyarakat dan kebutuhan penanganan darurat harus segera disampaikan, sementara jaringan komunikasi yang biasa digunakan tidak dapat diandalkan.

Radio HF Menjadi Penghubung ke BNPB Pusat

Di tengah keterbatasan jaringan komunikasi, Ichsan menyiapkan perangkat radio HF di rumahnya. Karena listrik padam, perangkat tersebut dioperasikan menggunakan baterai mobil pribadi.

Ia menjelaskan, radio mulai disiapkan sekitar pukul 17.00 untuk memancarkan informasi melalui frekuensi 7,110 MHz, yang menurut keterangannya digunakan dalam komunikasi darurat ORARI.

Melalui jaringan radio amatir, informasi dari wilayah terdampak diupayakan agar dapat diteruskan kepada ORARI pusat dan selanjutnya disampaikan kepada BNPB serta pihak terkait di tingkat pusat.

Menurut Ichsan, sekitar pukul 18.00 komunikasi dengan BNPB pusat berhasil terjalin melalui bantuan ORARI pusat.

Keberhasilan tersebut menjadi bagian penting dalam upaya membuka jalur komunikasi dari wilayah terdampak ketika jaringan seluler dan internet mengalami gangguan.

Meski demikian, upaya menghubungi sejumlah pejabat terkait belum seluruhnya berhasil pada malam kejadian. 

Ichsan mengaku berusaha menjalin komunikasi dengan Direktur Rekonstruksi dan Rehabilitasi yang berada di Sumatera Utara melalui ORARI daerah setempat, termasuk melalui aplikasi WhatsApp.

Komunikasi tersebut, menurut dia, baru berhasil dilakukan pada hari berikutnya.

Pengalaman ini memperlihatkan bahwa radio HF dapat menjadi sarana komunikasi alternatif ketika jaringan telekomunikasi konvensional terganggu. 

Namun, efektivitasnya tetap bergantung pada kesiapan perangkat, sumber daya listrik, kondisi propagasi radio, dan tersedianya operator yang mampu mengoperasikannya.

Halaman Rumah Menjadi Lokasi Posko Sementara

Setelah komunikasi dengan pihak pusat berhasil dilakukan, koordinasi penanganan bencana di tingkat daerah juga terus diupayakan.

Menurut penuturan Ichsan, seorang utusan menyampaikan informasi kepada Bupati Aceh Tamiang Irjen Pol (P) Drs Armia Pahmi MH yang saat itu berada di warung kopi (Best Coffee), di depan Islamic Center desa tanah Terban Kecamatan Karang Baru.

Bupati Armia bersama rombongan kemudian berupaya menuju pendopo dengan menerobos arus Sungai Tamiang yang deras.

Pada hari berikutnya, Bupati mendatangi rumah Ichsan di Kompleks Prabu Riva. Setibanya di lokasi, Bupati berada di rumah tersebut hingga menjelang waktu Magrib sebelum melanjutkan koordinasi pada malam harinya.

Dalam situasi darurat itu, halaman rumah Ichsan kemudian dimanfaatkan sebagai lokasi pendirian posko sementara untuk mendukung koordinasi pengendalian banjir. Posko tersebut didirikan menggunakan tenda.

Ichsan menjelaskan, keputusan itu diambil ketika kondisi lapangan masih sulit dan sejumlah pejabat terkait tidak berada di daerah. Kapolres dan beberapa pejabat lainnya, menurut dia, sedang berada di luar daerah sehingga koordinasi harus dilakukan dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia.

Pemanfaatan halaman rumah sebagai lokasi posko memperlihatkan bagaimana fasilitas yang tersedia di lapangan dapat digunakan untuk mendukung koordinasi penanganan bencana dalam kondisi darurat.

Keterbatasan Komunikasi Menjadi Tantangan Utama

Berdasarkan kesaksian Ichsan, terdapat sejumlah tantangan dalam penyampaian informasi dan koordinasi penanganan bencana di Aceh Tamiang.

Pertama, terputusnya jaringan komunikasi seluler dan internet menyebabkan informasi dari wilayah terdampak sulit disampaikan. Kondisi tersebut mendorong sejumlah pihak mencari lokasi yang masih memungkinkan untuk memperoleh sinyal.

Kedua, padamnya listrik membatasi penggunaan perangkat komunikasi elektronik. Untuk mengatasi kendala tersebut, perangkat radio HF milik Ichsan dioperasikan menggunakan baterai mobil pribadi.

Ketiga, komunikasi dengan sejumlah pejabat terkait tidak dapat dilakukan secara langsung pada malam kejadian. Meskipun komunikasi dengan BNPB pusat berhasil terjalin melalui ORARI, upaya menghubungi pihak lain masih menghadapi kendala.

Keempat, kondisi geografis dan keterbatasan personel turut memengaruhi koordinasi di lapangan. Derasnya arus Sungai Tamiang menjadi salah satu hambatan perjalanan, sementara keberadaan sejumlah pejabat di luar daerah menambah tantangan dalam pengendalian penanganan bencana.

Situasi tersebut menegaskan pentingnya sistem komunikasi darurat yang tidak hanya bergantung pada satu jenis infrastruktur. Ketersediaan perangkat komunikasi alternatif, sumber daya listrik cadangan, operator terlatih, serta koordinasi lintas lembaga merupakan bagian penting dalam kesiapsiagaan menghadapi bencana.

Radio Amatir dan Pentingnya Kesiapsiagaan Bencana

Kesaksian Ichsan (YC6CX) memberikan gambaran mengenai upaya pemanfaatan radio amatir untuk mendukung komunikasi kebencanaan di Aceh Tamiang.

Ketika jaringan seluler dan internet tidak dapat digunakan, komunikasi radio HF diupayakan sebagai jalur alternatif untuk meneruskan informasi dari wilayah terdampak kepada pihak di luar daerah.

Menurut Ichsan, terjalinnya komunikasi dengan BNPB pusat sekitar pukul 18.00 menjadi salah satu bagian penting dalam kronologi upaya tersebut.

Di tingkat daerah, pendirian posko sementara di halaman rumahnya juga menunjukkan upaya memanfaatkan fasilitas yang tersedia untuk mendukung koordinasi penanganan banjir.

Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa kesiapan komunikasi darurat merupakan salah satu unsur penting dalam penanganan bencana hidrometeorologi. Ketika infrastruktur komunikasi mengalami gangguan, jalur komunikasi alternatif dapat membantu mengurangi keterisolasian wilayah terdampak dan mendukung penyampaian informasi kepada pihak yang berwenang.

Meski demikian, efektivitas penanganan bencana tidak hanya ditentukan oleh tersedianya sarana komunikasi, tetapi juga oleh kecepatan verifikasi informasi, kesiapan personel, koordinasi antarlembaga, serta tindak lanjut terhadap kebutuhan masyarakat terdampak.

Pengalaman di Aceh Tamiang tersebut memperlihatkan pentingnya kesiapsiagaan komunikasi sebagai bagian dari sistem penanggulangan bencana, terutama ketika kondisi darurat membuat sarana komunikasi sehari-hari tidak lagi dapat diandalkan, ungkap Ichsan.(Pakar).

Posting Komentar

0 Komentar