fiksumnews.com | Aceh Tamiang - Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang bersama Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BBRMP) Aceh melaksanakan gerakan tanam padi serempak perdana pascabencana banjir di areal persawahan Kampung Sukajadi-Paya Bujuk, Kecamatan Karang Baru, Jumat (21/8/2026).
Kegiatan tersebut menjadi langkah percepatan pemulihan sektor pertanian melalui penerapan teknologi Pertanian Modern – Advanced Agricultural System (PM-AAS) dengan metode tanam benih langsung menggunakan alat mekanisasi pertanian modern.
Program ini merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam mengembalikan produktivitas lahan sawah terdampak banjir sekaligus mendukung percepatan peningkatan indeks pertanaman (IP) dan produksi padi di Kabupaten Aceh Tamiang.
Mewakili Liaison Officer (LO) Brigade Pangan dari Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta Magelang (Polbangtan YoMa), Rizki Kurniawan, mengatakan penerapan teknologi PM-AAS merupakan bagian dari program nasional Kementerian Pertanian dalam mengejar target gerakan tanam seluas 50.000 hektare secara serentak di seluruh Indonesia.
“Gerakan tanam serempak 50.000 hektar ini dilakukan secara bergulir di berbagai daerah. Untuk wilayah Aceh, kegiatan ini sudah dilaksanakan di beberapa kabupaten dan hari ini dipusatkan di Aceh Tamiang,” ujar Rizki.
Ia menjelaskan, di Aceh terdapat 23 kabupaten yang menjadi wilayah pendampingan Brigade Pangan Polbangtan YoMa, termasuk Aceh Tamiang yang memiliki potensi besar dalam pengembangan pertanian modern.
Menurutnya, penerapan PM-AAS diharapkan mampu meningkatkan indeks pertanaman padi di Provinsi Aceh yang saat ini masih berada di kisaran 1,7 menuju target IP 2 sesuai arahan Kementerian Pertanian.
“Melalui teknologi ini kita berharap produktivitas lahan meningkat dan petani dapat memperoleh hasil yang lebih baik,” katanya.
Rizki juga menyampaikan, di Aceh Tamiang terdapat 16 Brigade Pangan yang tersebar di enam kecamatan dengan total luasan lahan mencapai sekitar 3.177 hektare. Dari jumlah tersebut, sebanyak 15 Brigade Pangan telah mendapatkan fasilitasi alat mesin pertanian (alsintan), sementara satu lainnya masih dalam proses pengusulan, imbuhnya.
Sementara itu, Plt. Kepala Dinas Pertanian, Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Aceh Tamiang, Irwan Hadi SP, menyatakan Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang mendukung penuh penerapan inovasi teknologi PM-AAS sebagai solusi pemulihan lahan pertanian pascabencana.
Menurutnya, keberhasilan program tersebut membutuhkan pendampingan berkelanjutan dari BBRMP Aceh dan penyuluh pertanian lapangan (PPL), terutama dalam memastikan kondisi lahan yang terdampak banjir kembali produktif.
“Kami sangat mendukung penerapan metode PM-AAS ini agar produksi pertanian meningkat. Namun, pendampingan harus terus dilakukan, termasuk identifikasi kondisi tanah dan unsur hara pada lahan bekas bencana,” ujar Irwan Hadi.
Ia juga meminta Datok Penghulu Kampung Sukajadi - Paya Bujuk bersama masyarakat untuk ikut mengawal pelaksanaan program tersebut agar berjalan optimal.
Sementara itu, Datok Penghulu Kampung Suka Jadi, Susilo, mengatakan luas lahan sawah yang menjadi lokasi kegiatan mencapai sekitar 65 hektare. Namun, kondisi lahan masih menghadapi kendala akibat material lumpur pascabanjir hidromedologi akhir November 2025 lalu.
“Pasca banjir, kondisi sawah masih banyak lumpur. Namun karena kebutuhan petani untuk kembali menanam cukup mendesak, kami mencoba melakukan penanaman dengan dukungan dan pendampingan dari pemerintah,” jelas Susilo.
Ia berharap pemerintah dapat segera melakukan rehabilitasi lahan sawah di desa kami agar petani lebih mudah kembali bercocok tanam dan meningkatkan kesejahteraan keluarga.
“Harapan kami lahan ini segera dipulihkan sehingga petani bisa kembali berproduksi secara maksimal,” tambahnya.
Koordinator Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Karang Baru, Syarifah Fitriani, menjelaskan bahwa sebelum terdampak banjir, kawasan sawah seluas 65 hektare tersebut telah mendapatkan program optimalisasi lahan berupa pembangunan jaringan irigasi.
Namun, banjir besar November 2025 lalu menyebabkan sejumlah fasilitas pertanian mengalami kerusakan dan aktivitas pertanian masyarakat terganggu.
“Dengan adanya teknologi PM-AAS ini, petani diberikan alternatif untuk tetap melakukan penanaman meskipun kondisi lahan masih dalam tahap pemulihan,” ungkap Syarifah.
Ia menyebutkan, teknologi PM-AAS merupakan salah satu program unggulan Kementerian Pertanian Republik Indonesia dalam mendukung percepatan swasembada pangan melalui peningkatan produktivitas dan efisiensi usaha tani.
“Target utama penerapan PM-AAS adalah meningkatkan produksi padi sehingga pendapatan petani juga meningkat. Ini merupakan komitmen Menteri Pertanian untuk membantu petani kembali bangkit setelah terdampak bencana,”.
Penerapan PM-AAS di Aceh Tamiang menjadi bukti kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, penyuluh pertanian, dan masyarakat dalam mempercepat pemulihan sektor pertanian pascabencana serta mewujudkan ketahanan pangan daerah, ungkap Syarifah Fitriani.(Pakar).
0 Komentar