Header Ads Widget

Mumpung Musim Kemarau, Harfilin Minta Pemda Meranti Perhatikan Drainase Cegah Banjir

fiksumnews.com / Meranti -  Sistem pembuangan air atau drainase memiliki fungsi utama untuk mencegah banjir dan genangan. Namun, di Selatpanjang, Kabupaten Kepulauan Meranti, banjir masih menjadi persoalan tahunan yang meresahkan warga.

Beberapa titik sudah menjadi "langganan banjir", seperti Jalan Imam Bonjol dan Jalan Kartini. Bahkan kawasan yang dulunya tidak pernah banjir seperti Jalan Banglas, kini juga ikut terendam. Saat hujan lebat turun berbarengan dengan air laut pasang, air bahkan masuk ke dalam rumah warga.

Saat ini kondisi masih aman karena memasuki musim panas dan berpotensi kemarau. Momen inilah yang menurut Tokoh Masyarakat Meranti sekaligus Pemerhati Lingkungan, Harfilin  harus dimanfaatkan Pemerintah Daerah untuk segera bertindak.

Dengan situasi sekarang ini, Pemda hendaknya segera mencari akar permasalahan kenapa setiap hujan lebat dan air laut pasang, Selatpanjang pasti banjir sampai masuk ke rumah. Ini sangat meresahkan warga," kata Harfilin kepada media, Rabu (6/8/2026).

Ia bercerita, warga sering panik menyelamatkan barang-barang ke tempat yang lebih tinggi. Terlambat sedikit saja, barang dan perabot rumah pasti terendam. Bahkan menurut pengakuan warga, beberapa alat elektronik rusak karena terendam air banjir.

Drainase Tersumbat Sampah dan Tertutup Semen

Menurut Harfilin salah satu penyebab utama banjir adalah buruknya kondisi drainase dan tidak adanya pembersihan secara rutin. 

Ini yang sering terlupakan. Padahal fungsinya sangat vital. Drainase itu untuk mengalirkan air ke sungai atau ke laut. Kalau paritnya buntu, kemana air mau lari?" tegasnya.

Ia menyoroti dua persoalan besar. _Pertama_, banyaknya drainase dan selokan yang kotor dan dipenuhi sampah rumah tangga. Sampah menyumbat aliran air sehingga ketika hujan datang, air meluap ke jalan dan pemukiman.

_Kedua_, di sejumlah kawasan pertokoan, parit atau selokan justru ditutup dan disemen di bagian atasnya untuk dijadikan tempat parkir atau perluasan toko. Penutupan ini justru menghilangkan fungsi resapan dan memperparah genangan.

Kaji Dampak Banjir dan Selokan Kotor

Harfilin mengingatkan, dampak banjir tidak hanya merusak harta benda. Ada dampak lain yang lebih berbahaya dalam jangka panjang.

1.  Dampak Kesehatan: Air tergenang menjadi sarang nyamuk penyebab DBD, bakteri, dan virus. Banjir juga memicu penyakit kulit, diare, dan ISPA karena warga terpaksa kontak langsung dengan air kotor.
2.  Dampak Infrastruktur: Air yang menggenang dalam waktu lama akan merusak struktur jalan, menyebabkan jalan bergelombang dan berlubang. Bangunan rumah dan toko juga cepat rusak karena pondasi terendam.
3.  Dampak Ekonomi: Aktivitas warga lumpuh. Anak sekolah tidak bisa berangkat, pedagang tidak bisa jualan, dan biaya perbaikan rumah serta kendaraan bertambah. Kerugian ekonomi masyarakat jadi berlipat.

Kalau sudah banjir begini, otomatis tidak baik untuk kesehatan. Air kotor itu sarang penyakit. Belum lagi jalan rusak, rumah rusak. Kerugian nya besar sekali," ujarnya.

Imbauan ke Pemda dan DPRD

Untuk itu, Harfilin  mengimbau Pemerintah Daerah melalui Dinas PUPR agar lebih jeli melihat kondisi di lapangan. Ia juga meminta para wakil rakyat di DPRD Meranti untuk mengalokasikan dan memprioritaskan anggaran untuk pembersihan drainase, selokan, dan parit.

"Jangan tunggu hujan datang atau pasang keling. Kalau sudah begitu, mau kerja juga susah. Ini mumpung musim panas, bahkan mau kemarau. Tanah kering, air surut. Ini waktu yang paling tepat untuk mengeruk lumpur dan mengangkat sampah dari parit," tutup Harfilin.(Deki)

Posting Komentar

0 Komentar