Akibat tingginya curah hujan di akhir 2025 lalu,mengakibatkan sejumlah titik Tembok Penahan Tanah (TPT) SMA Negeri 2 Besitang rubuh. Namun sampai sejauh ini belum ada tanda-tanda akan diperbaiki oleh instansi terkait.
SMA Negeri 2 yang berlokasi di lingkungan Vl Bukit Gayo Kelurahan Kampung Lama, Kecamatan Besitang Kabupaten Langkat, kini kondisinya sangat memperihatinkan, Tembok Penahan Tanah (TPT) yang roboh pasca bencana pada akhir 2025 lalu.
Sudah tujuh bulan berlalu batu heling pada struktur penahan tebing longsor, namun sangat disayang
kan beberapa bahagian tembok yang hancur hingga kini belum juga mendapat perhatian serius dari instansi terkait.
Dengan kondisi saat ini , TPT yang roboh sangat berpotensi menggerus material tanah tebing di saat musim hujan yang berdampak terhadap kerusakan lebih parah terhadap bangunan gedung sekolah yang berada di atas bukit.
M. Guntur Selakau humas di SMA Negeri 2 Besitang saat ditemui Kamis (4/6/2026) fiksumnews.com mengatakan,batu heling ini roboh akibat tingginya curah hujan saat itu sehingga batu heling tidak mampu menahan terjangan material tanah yang longsor dari atas bukit sehinga mengakibatkan batu -batu tembok penahan tanah itu hancur.
Guntur juga mengatakan, kerusakan TPT ini sudah disampaikan termasuk usulan perbaikan kepada instansi terkait,akan tetapi hingga saat ini belum ada kepastian kapanperbaikan akan dilakukan perbaikan,ujarnya.
Padahal keberadaan TPT itu sangat penting untuk menjaga kestabilan areal sekolah, jika perbaikan tidak segera dilakukan maka kerusakan yang lebih luas dikhawatirkan akan terjadi apalagi saat hujan turun.
Pantauan awak media ini di lapangan belum lama ini potensi kerusakan akan semakin besar dan tidak tertutup kemungkinan pondasi gedung sekolah akan turut amlas karena kerusakan TPT akan semakin meluas, hal ini perlu menjadi perhatian serius oleh instansi terkait.
Pasilitas gedung yang bergengsi ini dibangun dimasa kepemimpinanan Edi Rahmayadi sebagai Gubernur Sumut, dengan pasilitas mewah ini direncanakan sebagai sekolah unggulan SMA Plus Namun kini berubah menjadi SMA Negeri 2 Besitang
Gagalnya menjadi SMA Plus mengaakibatnya sejumlah gedung asram yang telah dilengkapi dengan berbagai pasilitas tempat tidur dan pasilitas mewah lainnya,kini terlihat sejumlah gedung hanya terbengkalai.
Selain itu yang cukup memprihatinkan tentang status penjaga sekolah SMA Negeri 2 Besitang, Suroso ia tidak menerima gaji honor dalam menjalankan tugasnya.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari-hari,Suroso hanya mengandalkan hasil panen dari beberapa batang pohon sawit di sekitar sekolah.
Dari hasil penjualan tandan buah sawit itu,Suroso hanya mendapat uang sebesar Rp 300.000 sekali panen. Ia juga mengatakan Satu bulan mendapatkan uang sekitar Rp 600.000 dan sebahagian uangnya dibelikan racun rumput untuk menyemprot pekarangan sekolah, ucapnya sedih.
Pihak sekolah berharap perbaikan TPT segera dilakukan oleh pihak terkait. Selain mencegah kerusakan yang lebih parah lagi, juga proses belajar/mengajar menjadi hal yang penting di sekolah tersebut.
Untuk diketahui para pihak terkait, penanganan cepat menjadi kebutuhan mendesak bukan hanya sekedar usulan yang terus menunggu realisasi,tapi tindakan nyata itu yang diperlukan, ujar beberapa narasumber di sekolah tersebut.
Catatan kru media fiksumnews.com sejak pelaksanaan pembangunan sejumlah gedung SMA Negeri 2 Besitang dimulai seakan tak pernah luput dari berbagai masalah.
Selain awal pembangunannya tersendat, bahkan molor dari waktu yang telah ditentukan.(R/az)
0 Komentar