Hal ini diungkap Gunawan (50) warga Desa Klambir Lima Kebun Kecamatan Hamparan Perak Kabupaten Deliserdang tertunduk lesu.
Pasalnya gaji yang harus diterimanya sebagai vendor di PT. Hutama Karya Infrastruktur (HKI) sudah tiga tahun tak dibayarkan. Diduga ada permainan kotor yang terstruktur, disebut sebut semacam penggelapan invoice.
Gunawan yang merasa ditipu mentah-mentah ini menemui wartawan di Medan, Sabtu (03/02/24) pekan kemarin.
Ia berkeluh kesan tentang nasibnya, hasil kerjanya di tahun 2021 hingga kini tak diberikan pihak HKI. Sudah berulang ditagih namun hanya jawaban klasik yang disampaikan pihak manajemen HKI.
Menurut Gunawan, ia sebagai vendor di HKI tercatat sejak tahun 2016 di Semayang tol Binjai (Medbin).
“Di tahun 2016 hingga tahun 2020 upah kerja sebagai vendor lancar lancar saja. Akan tetapi di tahun 2021 mulai dipersulit. Bahkan hingga tahun 2024 tak juga dibayarkan. Pengerjaan itu meliputi RCP, RCP Doble, Barier, Bokong Semar, saluran, L- SHIP (penahan longsor), Cross Drain di Tanjung Mulia Thn 2020 – 2021. Secara total upah saya yang belum dibayarkan sebesar Rp 90 juta. Opname Invoice (tagihan) sudah 3 x saya berikan kepada ibu Citra di bagian keuangan. Macam macam alasan yang diberikan, yang masih rapatlah, pimpinan tidak di kantorlah, ada saja alasan,” ujar Gunawan.
Menurut Gunawan belum ada keterangan resmi dari PT. HKI kenapa upah kerjanya tak disalurkan. Diduga ada upaya kesepakatan yang terstruktur dan masif.
“Pernah terjadi di tahun 2017 penggelapan invoice yang dilakukan oknum petinggi di HKI. Kejahatan itu terbongkar pelakunya diberhentikan dengan tidak hormat. Kita tidak menuduh hal itu terjadi di diri saya, yang jelas penggelapan invoice sudah pernah dilakukan oknum di PT. HKI,” ungkap Gunawan.
Ibu Citra yang dikonfirmasi wartawan, Senin (05/02/24) pagi melalui pesan WhatsApp tak memberikan jawaban yang konkrit. Ia hanya menyampaikan sudah berkoordinasi dengan Gunawan.
“Selamat pagi bapak, sudah saya konfirmasi pak dengan bapak Gunawannya pak, karena saya juga hanya sebagai pengurus administrasi kelengkapan tagihannya saja pak, bukan sebagai pihak yang membayar. Kemarin beliau sudah datang langsung ke kantor dan juga sudah saya jelaskan,” tulis Citra menjawab pesan konfirmasi.
Namun selang jeda waktu, Citra kembali mengirim pesan, ia mohon agar jangan dirilis beritanya. “Pak mohon maaf, bisa kah menunggu untuk tidak dirilis dulu pak, Kami mohon untuk meminta waktu ya pak ya” tulisnya. Jeda waktu lagi Citra malah memblokir nomor kontaknya. (Sabah)

0 Komentar